Ember yang Bergeser

Ember di kamar mandi bergeser lagi.

Aku rasa aku tahu siapa pelakunya, karena hanya ada tiga orang yang menggunakan kamar mandi di pojokan rumah. Entah sudah berapa kali aku mengembalikan posisi ember ke tempatnya semula. Tapi, hampir setiap kali aku memasuki kamar mandi, ember akan bergeser lagi ke posisi yang berbahaya.

Maksudnya apa sih menggeser ember hingga ke pinggir undakan? Biar ember jatuh dari undakan dan pecah?

Aku mencopot selang melengkung sepanjang sepuluh senti yang terpasang di keran sambil menggerutu pelan. Percuma menjadi orang yang berkutat dengan matematika dan fisika jika mereka tidak memahami cara kerja selang tersebut. Mungkin selang ini kusembunyikan saja, agar ember tidak bergeser-geser lagi.

Tapi tetap saja ini menjadi sebuah pertanyaan dan keherananku sendiri: apakah mereka tidak sadar mengapa aku memasang selang melengkung alih-alih selang yang tegak lurus? Bukankah sudah jelas agar aliran air mengucur langsung ke ember, walau posisinya jauh? Bukankah cara kerjanya sudah jelas: selang melengkung sama dengan aliran air yang melengkung?

Atau mereka saja yang terlalu idiot untuk memahami itu semua?

Aku keluar dari kamar mandi dengan bibir merengut. Esoknya, aku mendapat si ember kembali bergeser.

 

 

Advertisements

Pertanyaan yang Tak Terjawab

Ketika aku berkunjung ke makam ayahku pagi itu, beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan tidak percaya. Tidak ada satupun yang berniat untuk menutupi keterkejutan mereka saat melihatku. Aku, yang biasanya hanya berkunjung satu kali dalam satu tahun, kali ini berkunjung untuk yang ketiga kalinya hanya dalam kurun waktu tujuh bulan.

“Kamu…?” salah seorang dari mereka bertanya dengan mulut yang lupa ditutup, jarinya menunjuk diriku.

Aku tersenyum simpul. “Iya. Mau ke makam Ayah.”

“Oh, ya. Ya. Baiklah. Sendirian saja?”

Aku mengangguk, kemudian menganggukkan kepala lagi sebagai tanda permisi. Yang lain-lainnya melihat dan mendengar—menguping—kemudian kembali ke aktivitas masing-masing. Tapi mungkin mereka masih berbisik-bisik, seperti segerombolan penggosip yang tidak punya pekerjaan.

Kakiku menapak melewati gerbang pemakaman. Lurus, kemudian melangkah sedikit ke arah kiri hingga ke ujung makam. Tepat di bawah pohon kelapa paling besar, aku akan menemukan makam ayahku. Berbaris rapi bersama makam Kakek dan Nenek yang sudah dikubur terlebih dahulu satu dekade lalu.

Mataku menatap makam tersebut dengan pikiran kosong. Jika kupikir-pikir lagi, aku bukan tipe dramatis yang akan menangisi pemakaman anggota keluargaku. Tangis histeris itu tidak pernah keluar di muka umum, hanya tatapan tidak percaya yang bisa kuberikan. Tujuh bulan lalu, tanganku meremas-remas jari kaki beliau yang sudah mendingin sejak dua hari sebelum beliau dinyatakan sudah tiada.  

Tanaman yang ditancapkan sembarangan oleh petugas pemakaman ternyata tumbuh dengan subur. Hijau, kuat dan terlihat segar. Mungkin karena tanaman tersebut mendapatkan asupan nutrisi yang melimpah dari tubuh-tubuh yang terkubur di bawah akar mereka. Mungkin juga karena tanaman tersebut “memang tipe yang mudah tumbuh di mana saja.” Setidaknya begitu ujar Ibu.

Hal lain yang aku sadari adalah gundukan tanah di makam Ayah sudah tidak setinggi ketika tubuh beliau baru dimasukkan ke liang makam. Gundukan itu mulai memadat dan, syukurnya, apa yang kutakutkan tidak terjadi. Ayah dimakamkan ketika musim hujan, di mana hujan turun tanpa bisa diprediksi. Bukan tidak mungkin gundukan tanah gembur yang baru saja digali itu mengalami—aku tidak tahu apa istilah tepatnya—hal-hal tertentu, misalnya longsor. Membuat makam yang baru selesai dikerjakan mungkin kembali berlubang—hanya di bagian atasnya.

Jika hal tersebut terjadi, tidakkah hal tersebut terdengar menyedihkan?

Aku tertawa sendiri ketika menyadari apa yang sudah kupikirkan. Sedihkah? Tapi kau tidak akan pernah tahu, kan, Ayah?

Tanganku meraih rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh di sekitar tanaman tersebut. Aku mencabutinya dengan kasar, kemudian melemparnya ke makam di samping makam Ayah (tidak, aku tidak melemparnya ke makam Kakek atau Nenek). Pikiranku, emosiku, yang tadinya kosong mendadak saja membuncah-buncah. Aku bisa merasakan kemarahan yang mulai merayap di atas kulitku dan membuat dahiku berkedut-kedut menyakitkan.

Sedihkah kematianmu?

Aku melempar rumput kecil tersebut dengan marah ke makam Ayah. Aku berdiri, kemudian berjalan memutari makam Ayah dengan gelisah.

“Ayah tidak bisa menjawabnya lagi, kan?” aku berbisik. Dan walau bisikan tersebut keluar dari mulutku, aku bisa merasakan tubuhku merinding sesaat. Rintik hujan yang mulai turun sama sekali tidak membantu, apalagi suara daun-daun kelapa yang bergesek karena hembusan angin. Suasana makam yang dingin itu menjadi semakin dingin.

Tapi Ayah memang jarang menjawab pertanyaanku.

Aku mengingat-ngingat memori selama lima tahun terakhir. Lima tahun terakhir di mana setiap bulan aku mengirimkan obat-obatan yang tidak kuketahui apa fungsinya. Ketika aku bertanya, Ayah akan menjawab sekedarnya. Aku yang cepat terpuaskan, bersamaan dengan keteledoran dan ketidakpedulianku, mengirimku pada momen belajar kilat, sebelum aku menemui dokter pribadi beliau dan berdiskusi menyoal tindakan apa yang harus kami lakukan malam itu.

Membiarkannya di sini, atau kita sudahi?

Aku meremas ujung blusku yang lembab karena air hujan. Semuanya membuatku kembali teringat ke dua malam yang membuat kami semua terjaga dengan resah. Dua malam di mana aku melihat tubuh kering yang berusaha memperjuangkan kehidupan dengan dada yang naik turun menyakitkan.

Sakitkah rasanya saat kau menghadapi kematian itu?

Aku kembali bertanya di dalam hati. Aku sempat sungguh tergoda untuk menanyakannya secara langsung, ke tubuh yang sudah terkubur jauh di bawah sana, walau semua juga tahu bahwa tubuh itu tidak akan pernah menjawab. Ke tubuh yang mungkin sekarang sudah hancur, walau aku tidak bisa memastikan, karena semua terjadi tujuh bulan yang lalu. Aku hanya sempat menyaksikannya hingga fase rigor mortis, karena orang-orang dewasa yang ada di sekitar memaksaku untuk menutupi tubuh Ayah dengan kain meskipun aku memutuskan untuk tidur di sampingnya saat itu.

Ketika aku berbaring, di suatu pagi yang lain, aku bisa merasakan jari-jariku mendingin dan dadaku berdegup kencang, saat benakku tanpa sengaja kembali mempertanyakan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab tersebut.

Menjadi Siapa

Apakah aku akan menjadi Siti Nurbaya

Yang ujung-ujungnya akan dijodohkan dengan seorang pria

Atau aku menjadi Cinderella?

Yang pada akhirnya hanya menunggu sang pangeran datang sambil berkuda

Atau kau tidak perlu menjadi dua-duanya

Karena kau adalah seorang wanita

Yang tidak perlu menunggu pertolongan datang dengan sendirinya

Membacamu Bercerita

Aku senang mendengarkan orang bercerita.

Ya, aku memang mendengarkan. Aku akan duduk di depanmu, di sampingmu, memasang telingaku baik-baik demi bisa mendengarkan apapun yang kau ceritakan saat itu padaku. Sebagian orang mungkin akan mulai mengalihkan perhatian mereka pada ponsel mereka ketika mereka mulai merasa lelah atau bosan, beberapa mulai menutup mulut mereka—mencoba menutupi kuap yang berkhianat dan tidak bisa mereka tahan, beberapa akan menunjukkan terang-terangan bahwa mereka sudah bosan setengah mati mendengarkanmu bercerita.

Tapi aku akan berusaha untuk mendengarkanmu bercerita, semembosankan apapun itu, semelelahkan apapun itu. Karena aku tahu, memang agak sedih rasanya ketika tidak ada orang yang mendengarkanmu.

Sekarang, biarkan aku yang bercerita: aku mendengarkan cerita bukan hanya karena aku peduli. Ada lebih banyak cerita yang bisa “kubaca” dari caramu bercerita. Bagaimanapun, aku adalah seorang pembaca. (more…)

The Grim Figure

It’s been always such a long and lonely night

Since the King appointed him to be the knight

He was happy to protect and to fight

But in the end, he’s never been alright

He saw his face in the mirror, miraculously ageless

Haunted him, it’s ready to devour him into the pole of darkness

Even though he tried to run away from these evil forces

Somebody would strangle and turn him into madness

He would try his best to hide

When the moon finally showed up

But as the clouds have changed its guide

He realized how many lives he had screwed-up

Pale and trembling

He finally saw the grim figure of Death waiting

And as Death ready to finish everything,

He then said: “this really might be my ending” (more…)

Malam Itu

Malam itu aku tergelak-gelak sendiri.

Mungkin akan ada yang berpikir bahwa aku sudah gila. Atau mungkin sudah ada yang berpikir seperti itu juga? Kemudian, aku tergelak-gelak kembali.

Malam itu aku memuntahkan untaian kata di bawah gelapnya malam.

Cahaya remang-remang dari lampu jalan di kejauhan menemaniku yang sendirian bersama dengan cahaya dari layar ponselku yang murahan. Semuanya serba remang-remang. Bahkan sesekali cahaya yang mengelilingiku itu akan meredup, seperti masa depanku yang acapkali membuatku gugup.

Maka beruntunglah aku karena bulan tidak melintup!

Bayangkan! Bagaimana cahaya yang sudah remang-remang itu mendadak hilang dan meninggalkanku kegelapan sendirian? Bukankah itu akhir dari dunia yang hidupnya sudah cukup panjang?

Malam itu, aku manggut-manggut sendirian.

Aku hanyalah wanita berumur dua lima, terduduk sendiri di pinggir jalan cukup lama, sembari mencoret-coret kertas kumal ditemani ponsel buruk rupa. Tengah malam pula!

Siapa yang bisa memberitahuku apa yang sedang terjadi pada malam yang sudah hampir gelap gulita?