Menjadi Siapa

Apakah aku akan menjadi Siti Nurbaya

Yang ujung-ujungnya akan dijodohkan dengan seorang pria

Atau aku menjadi Cinderella?

Yang pada akhirnya hanya menunggu sang pangeran datang sambil berkuda

Atau kau tidak perlu menjadi dua-duanya

Karena kau adalah seorang wanita 

Yang tidak perlu menunggu pertolongan datang dengan sendirinya

Abis dapat ancaman buat dikawinin kalo gak segera lulus S1.

You know… “kawin”….

/laughs like a mad

Advertisements

Membacamu Bercerita

Aku senang mendengarkan orang bercerita.

Ya, aku memang mendengarkan. Aku akan duduk di depanmu, di sampingmu, memasang telingaku baik-baik demi bisa mendengarkan apapun yang kau ceritakan saat itu padaku. Sebagian orang mungkin akan mulai mengalihkan perhatian mereka pada ponsel mereka ketika mereka mulai merasa lelah atau bosan, beberapa mulai menutup mulut mereka—mencoba menutupi kuap yang berkhianat dan tidak bisa mereka tahan, beberapa akan menunjukkan terang-terangan bahwa mereka sudah bosan setengah mati mendengarkanmu bercerita.

Tapi aku akan berusaha untuk mendengarkanmu bercerita, semembosankan apapun itu, semelelahkan apapun itu. Karena aku tahu, memang agak sedih rasanya ketika tidak ada orang yang mendengarkanmu.

Sekarang, biarkan aku yang bercerita: aku mendengarkan cerita bukan hanya karena aku peduli. Ada lebih banyak cerita yang bisa “kubaca” dari caramu bercerita. Bagaimanapun, aku adalah seorang pembaca. (more…)

The Grim Figure

It’s been always such a long and lonely night

Since the King appointed him to be the knight

He was happy to protect and to fight

But in the end, he’s never been alright

He saw his face in the mirror, miraculously ageless

Haunted him, it’s ready to devour him into the pole of darkness

Even though he tried to run away from these evil forces

Somebody would strangle and turn him into madness

He would try his best to hide

When the moon finally showed up

But as the clouds have changed its guide

He realized how many lives he had screwed-up

Pale and trembling

He finally saw the grim figure of Death waiting

And as Death ready to finish everything,

He then said: “this really might be my ending” (more…)

Malam Itu

Malam itu aku tergelak-gelak sendiri.

Mungkin akan ada yang berpikir bahwa aku sudah gila. Atau mungkin sudah ada yang berpikir seperti itu juga? Kemudian, aku tergelak-gelak kembali.

Malam itu aku memuntahkan untaian kata di bawah gelapnya malam.

Cahaya remang-remang dari lampu jalan di kejauhan menemaniku yang sendirian bersama dengan cahaya dari layar ponselku yang murahan. Semuanya serba remang-remang. Bahkan sesekali cahaya yang mengelilingiku itu akan meredup, seperti masa depanku yang acapkali membuatku gugup.

Maka beruntunglah aku karena bulan tidak melintup!

Bayangkan! Bagaimana cahaya yang sudah remang-remang itu mendadak hilang dan meninggalkanku kegelapan sendirian? Bukankah itu akhir dari dunia yang hidupnya sudah cukup panjang?

Malam itu, aku manggut-manggut sendirian.

Aku hanyalah wanita berumur dua lima, terduduk sendiri di pinggir jalan cukup lama, sembari mencoret-coret kertas kumal ditemani ponsel buruk rupa. Tengah malam pula!

Siapa yang bisa memberitahuku apa yang sedang terjadi pada malam yang sudah hampir gelap gulita?

Pujian-Pujian

Janganlah terlena akan pujian-pujian yang mereka utarakan

Karena bisa saja membuatmu terbuai keenakan

Berbangga pada diri seolah kau adalah aktor kawakan

Yang kemudian menjadikanmu manusia haus perhatian

Sekali dua kali mereka tersenyum manis didepanmu

Kemudian mengucapkan rangkaian kata penuh bujuk rayu

Lalu mereka membuatmu terlena dalam rangkaian kata mendayu-dayu

Yang kemudian akan membuat pipimu tersipu-sipu

Siapa yang tahu jika kata-kata itu hanyalah keindahan semu

Membuat hidupmu mungkin malah menjadi semakin kelabu

Kemudian akhirnya kaupun terisak-isak sendu

Karena menyadari bahwa semua itu hanyalah pujian palsu

Percayalah padaku wahai kawan

Janganlah terlena akan pujian-pujian

 

Pemanasan, Sebelum Akhirnya Kita Akan Bersenang-Senang Malam Ini

Wanita itu berjalan mondar-mandir di halaman rumahnya yang besar. Ke kanan, kemudian ke kiri, begitu terus, bolak-balik, membuatnya pusing sendiri. Kemudian raut wajah wanita itu berubah, dahinya menyernyit serius dan ia mengangkat tangan kanannya. Wanita itu mengelus-elus pergelangan tangan kirinya, kemudian naik ke leher, juga mengelus-elusnya.

Sang pria yang bersembunyi di balik pohon itu hanya bisa memiringkan kepala dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan.

Mendadak saja wanita itu mencekik lehernya. Kuat dan cepat sekali. Hingga kedua matanya membelalak. Tubuhnya merosot dan tergolek begitu saja. Tangannya lunglai, kemudian terdengar batuk pelan.

Sang pria langsung lari menghampirinya, hanya untuk mendapati tawa di antara batuk wanita itu.

That was awesome.